Densus 88 Sebut Pemicu 70 Anak Gabung Grup Radikalisme: Korban Bully-Ortu Sibuk

a day ago

Konpers Penanganan Anak Terpapar Konten Kekerasan di Ruang Digital oleh Polri bersama BNPT dan KPAI di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Densus 88 Antiteror Polri mengungkap pemicu 70 anak yang terpapar paham radikalisme, Neo-Nazi, dan white supremacy yang tersebar di 19 provinsi. Salah satu pemicunya adalah sebagian anak tersebut menjadi korban perundungan (bullying).

“Dari pemetaan dan asesmen yang dilakukan bersama, dapat diidentifikasi bahwa terdapat penyebab yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini, salah satunya adalah terjadinya perundungan,” kata Juru Bicara Densus 88, AKBP Myandra Eka Wardhana, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1).

“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, yaitu di luar sekolah,” lanjutnya.

Pemicu lainnya, kata Eka, adalah latar belakang keluarga anak-anak tersebut, seperti broken home, orang tua meninggal dunia, hingga kurangnya perhatian dari keluarga.

“Kemudian broken home, rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, mengalami trauma di dalam keluarga, atau kerap menyaksikan kekerasan di rumah. Selain itu, orang tua terlalu sibuk, kurang teman, dan membutuhkan apresiasi,” jelasnya.

Jubir Densus 88, AKBP Mayndra Wardhana. Foto: Dok. Lipsus kumparan

Menurut Eka, anak-anak tersebut kemudian mencari pelarian hingga akhirnya merasa grup media sosial tersebut menjadi rumah bagi mereka.

“Di sini mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya. Terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan masalah masing-masing, tentunya dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan,” tandasnya.


Comments