2 days ago
Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, biasanya mengalami serangan lalat saat musim hujan, terutama pada Desember dan Januari. Fenomena ini kerap menjadi sorotan karena Kintamani merupakan salah satu destinasi wisata populer di Bali.
“Di wilayah pertanian yang dikelola secara intensif, seperti pertanian musiman dan hortikultura, populasi lalat memang cenderung tinggi. Ini merupakan bagian dari siklus alam,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, saat dihubungi, Senin (5/1).
Sarma mengungkapkan beberapa faktor penyebab meningkatnya populasi lalat. Pertama, penggunaan pupuk kandang mentah, terutama kotoran ayam. Pupuk tersebut digunakan petani tanpa melalui proses pengomposan untuk menyuburkan tanah dan tanaman.
Kotoran ayam yang belum diolah mengandung bahan organik dan bau yang menarik lalat untuk bertelur, sehingga larva berkembang dengan cepat.
Selain itu, karakter lahan Kintamani yang cenderung kering membuat pupuk kandang lebih banyak digunakan. Di sisi lain, petani memiliki keterbatasan biaya, tenaga, waktu, dan peralatan untuk mengolah pupuk kandang mentah menjadi kompos.
“Kendalanya di biaya. Kalau dilakukan fermentasi, berarti ada tambahan tenaga, biaya, dan waktu,” ujarnya.
Faktor kedua adalah musim hujan yang bertepatan dengan musim tanam dan panen hortikultura pada Desember-Januari. Tanaman hortikultura seperti sayur dan buah bersifat musiman dan ditanam beberapa kali dalam setahun.
“Minimal tiga kali tanam. Biasanya setahun berikutnya baru lagi menggunakan pupuk organik. Polanya memang setahun sekali, seperti di musim hujan ini,” katanya.
Sekitar 70 persen wilayah Kabupaten Bangli berada di Kecamatan Kintamani. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Bangli berprofesi sebagai petani.
“Luas lahan pertanian di Kecamatan Kintamani sekitar 57.505 hektare dengan jumlah petani mencapai 36.277 orang,” jelas Sarma.
Menurutnya, Pemkab Bangli telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi serangan lalat, seperti edukasi pengurangan penggunaan pupuk kandang mentah, bimbingan teknis pengolahan pupuk menjadi kompos, serta pemberian subsidi pupuk kompos.
Pada 2025, Pemkab Bangli menyalurkan sekitar 1.000 ton pupuk kompos bersubsidi. Namun, jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan petani.
Pemprov Bali sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran larangan penggunaan pupuk kandang mentah pada 2024. Namun, aturan tersebut sulit diterapkan karena keterbatasan sumber daya petani.
“Larangan itu hanya berupa edaran dan tidak mengikat. Kalau dilarang total, petani tidak bisa berproduksi. Posisi kami jadi serba sulit,” ujarnya.
Pemkab Bangli menerima keluhan terkait serangan lalat dari pelaku pariwisata sejak 2012. Wisatawan disebut merasa terganggu dengan keberadaan lalat di sejumlah lokasi wisata.
“Keluhan paling banyak memang datang dari pelaku pariwisata. Tapi di wilayah pertanian seperti Kintamani, populasi lalat memang lebih tinggi dibanding daerah nonpertanian,” katanya.
Pemkab Bangli terus berupaya agar sektor pariwisata dan pertanian dapat berjalan beriringan. Salah satu imbauan terbaru adalah menutup pupuk kandang mentah dengan terpal sebelum ditebar untuk mengurangi lalat.
Namun, perubahan signifikan belum terlihat hingga kini.
“Ini memang gangguan kenyamanan, terutama bagi pariwisata. Tapi mau tidak mau, pertanian dan pariwisata harus tetap berjalan bersama,” ujarnya.
Salah satu wisatawan asal Makassar, Ela Dik Roth (32), mengaku tidak mengalami gangguan lalat saat berwisata ke Desa Batur Tengah dan Desa Songan pada 20 Desember 2025.
“Saya di Kintamani dari pukul 07.00 sampai 17.00 WITA. Saat makan memang ada lalat, tapi masih wajar dan tidak berlebihan,” katanya saat dihubungi kumparan.
Fenomena serangan lalat di Kintamani sempat dibahas pemerintah pusat pada 2024. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Sandiaga Uno, mengapresiasi penggunaan pupuk nonkimia oleh petani sebagai bagian dari pariwisata hijau.
Namun, ia mengakui penggunaan pupuk tersebut berdampak pada meningkatnya populasi lalat. Ia meminta pelaku pariwisata memperketat penerapan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan (CHSE).
“Penggunaan pupuk dari kotoran ayam ini efektif dan mendukung ekonomi hijau, tapi ada dampak berupa perkembangbiakan lalat yang masif,” kata Sandiaga Uno, Kamis (11/1/2024), dikutip dari Antara.
“Saya kembali mengingatkan agar standar SNI CHSE diterapkan secara konsisten,” tambahnya.