9 hours ago
Lekukan tubuh bocah perempuan bernama Ida Ayu Kade Safna Dewi saat menari di luar imajinasi warganet. Tubuhnya begitu lentur hingga mampu membentuk huruf S atau mirip lekukan bebek.
Praktik tari bocah berusia 11 tahun menjadi kontroversi dan viral di media sosial. Warganet pro dan kontra, mendukungnya namun khawatir dengan kondisi kesehatannya. Yakni, terserang penyakit lordosis atau scoliosis, sejenis kelainan pada tulang belakang.
Aksi tari perempuan yang dipanggil Gek Ade ini diposting akun Tiktok @Ni Kadek Astini, pada 12 Desember 2025 lalu. Postingan ini ditonton sekitar 28 juta kali. Ni Kadek Astini merupakan guru tari Gek Ade.
"Dia memang lentur banget orangnya. Si Gek ade memang bagus bodinya, tapi dia kalau jalan biasa dia, enggak yang kayak bebek itu," kata perempuan berusia 39 tahun ini saat dihubungi, Sabtu (10/1).
Dalam postingan itu, Gek Ade sedang berlatih salah satu tarian dasar spesifik dalam tari Bali yang disebut cengket.
Tari ini melibatkan gerakan kaki, pantat, dan kepala secara serempak. Penari menurunkan badan lalu naik lagi dengan kaki tertutup. Latihan ini penting untuk membangun postur tubuh yang kokoh dan tepat sesuai estetika tari Bali.
"Jadi disuruh rendah, ngget (posisi tubuh rendah dalam istilah tari Bali) ke bawah sedikit aja posisi badannya dia sudah otomatis melengkung, tidak seperti teman-temannya yang lain. Kalau yang lain itu kan bisa juga dia badannya melengkung tapi tidak seperti yang itu yang di TikTok itu," katanya.
Gek Ade sudah belajar tari selama 5 tahun atau sejak usia 6 tahun saat masih Taman Kanak-kanak (TK), hingga kini sudah duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Menurut Astini, lama masa latihan bukan faktor utama membuat tubuh Gek Ade lentur banget. Gek Ade lahir bak tubuh penari. Gek Ade rajin latihan olah tubuh dan menari sehingga tubuhnya semakin lentur.
Selain Gek Ade, ada sekitar 6 murid lainnya yang memiliki kelenturan tubuh yang luar biasa di Sanggar Pradnya Swari, Kabupaten Jembrana, Bali.
"Belum tentu juga mereka sampai 12 tahun latihan menari itu badannya semelengkung itu. Tapi sekali lagi, Ini tergantung orangnya, kalau orangnya memang konsisten bisa, karena kita mengajarkan olah tubuh juga di sanggar," katanya.
Astini mengatakan, latihan dasar tari Bali ini memang sulit. Penari wajib belajar gerakan kaki, gerakan tubuh, gerak dasar mata dan wajah. Posisi tubuh yang benar belum menjamin gerakan tari benar.
Astini biasanya melatih sekitar enam bulan sampai satu tahun bagi anak-anak untuk latihan dasar tari hingga mampu menari satu atau dua jenis tarian Bali. Anak-anak juga dievaluasi dan mengikuti ujian untuk dinyatakan lolos naik tingkat pada level berikutnya.
"Kalau tidak bisa posisi agem dia sulit mempelajari tari lain. Karena dasar tari Bali itu kan salah satu ada di agem," katanya.
Agem adalah latihan dasar tari Bali dengan posisi tubuh, kaki, dan tangan bertumpu pada salah satu kaki. Kaki lainnya berada di depan dan tangan sejajar mata.
Menurutnya, dibandingkan dengan tarian tradisional daerah lainnya, tari Bali memiliki penjiwaan yang lebih mendalam sehingga menjadikannya sebuah ciri khas. Hal ini bisa dilihat dari gerakan mata, kepala, dan lengkungan tubuh penari.
"Dari segi penjiwaannya, kita memang memiliki ciri khas sendiri. Kayak gerakan mata itu kan cuma di tari Bali aja yang ada gerakan seledet, muler," katanya.
Gerakan seledet, yaitu gerakan bola mata yang diarahkan ke samping, kanan atau kiri, secara cepat dan berulang. Kadang diikuti gerakan kepala, yang berfungsi memberikan ekspresi dan karakter.
Gerakan muler dalam tari Bali merujuk pada gerakan memutar, khususnya gerakan dasar yang melibatkan kepala dan leher. Gerakan ini merupakan salah satu elemen penting dalam ekspresi dan estetika tari Bali yang dinamis.
Astini mengaku sedih membaca komentar negatif dalam postingan latihan tari Gek Ade. Dia tak mau membalas karena tak sanggup meladeni satu per satu ratusan ribu komentar pro dan kontra.
Baginya, menanggapi komentar itu justru memicu rasa sakit hati dan stres. Astini ingin merespon komentar dengan pikiran positif, yakni mengabdi jadi guru tari.
"Anak itu kan dia sudah punya kelenturan sendiri bukan kita yang memaksakan badannya seperti ini. Nah contohnya kayak tari balet, tari balet itu kan bahkan kepalanya itu bisa nempel loh di pantatnya, gitu modelnya. Jadi melihat komen bisa jadi penyakit tapi saya ambil positifnya aja," kata.
"Kalau ada yang lihat patung tari Bali dan badannya bagus banget sampai pantatnya melengkung, yah memang kayak gitu tari Bali," katanya.a
Kemolekan tubuh Gek Ade sudah pasti berasal dari ajaran Astini. Astini memang sudah hidup berirama dengan tarian Bali sejak usia 7 tahun.
Tari Bali ini penting karena menjadi sebagai sarana komunikasi spiritual, persembahan, doa dan ucapan syukur pada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam setiap upacara keagamaan.
Kecintaannya pada seni tari Bali ditunjukkan dengan sekolah jurusan tari di SMKN 3 Sukawati sembari mengajar tari di balai desa. Astini membangun sanggar di kampung suaminya tahun 2011 lalu.
Astini bersama 18 guru dan asisten saat ini mengajar sekitar 280 peserta setiap Selasa hingga Minggu, secara bergantian. Astini juga mengajar secara gratis untuk 19 penyandang disabilitas di sanggar.
Astini sengaja membangun sanggar di Kabupaten Jembrana untuk melestarikan seni tari Bali. Dia khawatir budaya populer membuat anak-anak muda di sana lupa dengan tari Bali.
Astini mengingat suatu kali pihak desa kesulitan mencari anak-anak muda menari dalam upacara keagamaan baik karena malu hingga tak paham.
"Jadi di sini keinginan keras untuk membuka sanggar untuk anak-anak itu karena di sini kita memerlukan penari untuk kegiatan upacara itu sangat-sangat sulit. Makanya penting banget sih kalau misalnya itu tidak kita lestarikan dari dini," katanya.
Astini sudah menari dalam kurun waktu selama 32 tahun. Pengabdiannya tak sia-sia lantaran banyak siswa yang sempat berkesempatan menari di ajang lokal hingga internasional.
Astini bahkan menerima sejumlah penghargaan. Salah satunya dari Tiktok Indonesia tahun 2025 lalu dengan kategori Changemaker of The Year dalam wujud pelestarian tarian Bali.
"Ini adalah tugas sebagai guru tari, memperkenalkan memperkenalkan biar anak-anak kita tidak lupa dengan seni budayanya serta melestarikan budaya itu sendiri," katanya.