Last modified: 2 hours ago
Sebanyak enam sekolah dasar (SD) di Kabupaten Kulon Progo tidak memperoleh murid baru pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027. Dari jumlah tersebut, 4 sekolah merupakan SD Negeri, sementara lainnya adalah SD Swasta.
Sekretaris Disdikpora Kulon Progo, Nur Hadiyanto, menilai fenomena tersebut bukan semata dipengaruhi kualitas sekolah, melainkan berkaitan dengan penurunan jumlah anak usia sekolah akibat perubahan struktur demografi.
Data penerimaan siswa baru menunjukkan daya tampung SD jauh lebih besar dibanding jumlah calon peserta didik yang mendaftar.
"Faktor utamanya penurunan demografi. Dengan semakin kecilnya angka kelahiran, juga menurun jumlah anak usia sekolah," kata Nur dihubungi Pandangan Jogja, Jumat (18/7).
Ia menjelaskan, pada jenjang SD tersedia 9.912 kursi di 334 satuan pendidikan. Namun, hingga pelaksanaan SPMB tahun ini, jumlah murid baru yang diterima hanya mencapai 4.551 siswa.
"Pada jenjang SD secara daya tampung tersedia 9.912 kursi di 334 satuan pendidikan, hanya 4.551 yang terisi—suatu kesenjangan yang tidak dapat dipandang sebagai anomali sesaat, melainkan cerminan struktural dari tren penurunan jumlah anak usia sekolah," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan fenomena yang baru terjadi tahun ini karena berdasarkan data kependudukan menurut kelompok usia, tren penurunan jumlah anak usia sekolah sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir.
Minimnya jumlah murid baru kata Nur bukan semata-mata dipengaruhi kualitas masing-masing sekolah.
Sementara itu, berdasarkan dokumen yang diterima Pandangan Jogja, tercatat bahwa ada sekitar 120-an dari 334 SD di Kulon Progo yang memiliki jumlah murid baru kurang dari 10 siswa. Satu sekolah swasta bahkan telah ditutup.
“Tutup permanen, dari pihak yayasan sudah menyampaikan surat pernyataan penutupan sekolah,” kata Nur.