2 hours ago
Ladies, pernah nggak sih tiba-tiba pengin makanan pedas atau minum sesuatu yang manis-manis? Keinginan mendadak untuk menyantap pedas, mencari rasa manis, atau bahkan perasaan tak bisa lepas dari kopi sering dianggap hal sepele.
Padahal, keinginan yang biasanya disebut sebagai ngidam atau craving ini merupakan respons biologis dan psikologis yang nyata, melibatkan kerja otak, hormon, serta kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu.
Lalu, apa, sih, yang dimaksud dengan craving dan mengapa keinginan ini bisa muncul? Simak penjelasan berikut ya!
Menurut Verywell Health, craving muncul ketika otak mengaitkan makanan tertentu dengan rasa nyaman atau lega. Keri Gans, MS, RDN, seorang registered dietitian dan penulis The Small Change Diet, menjelaskan bahwa otak bekerja berdasarkan sistem reward.
“Makanan tertentu, terutama yang rasanya kuat seperti manis, asin, atau pedas, dapat mengaktifkan jalur reward di otak dan memicu pelepasan dopamin,” ujar Gans seperti dikutip Verywell Health. Dopamin inilah yang membuat seseorang merasa puas dan ingin mengulang pengalaman tersebut.
Pada makanan pedas, sensasi terbakar dari capsaicin membuat tubuh bereaksi seolah sedang berada dalam kondisi stres ringan. Tubuh lalu melepaskan endorfin untuk mengurangi rasa tidak nyaman itu.
Amy Shapiro, MS, RD, pendiri Real Nutrition NYC, menjelaskan bahwa efek endorfin ini menciptakan sensasi lega dan bahkan euforia ringan. Karena itu, saat stres atau emosi sedang tidak stabil, keinginan makan pedas bisa meningkat.
Untuk rasa manis, mekanismenya lebih jelas lagi. Gula secara langsung meningkatkan dopamin, sehingga otak cepat belajar bahwa manis sama dengan rasa nyaman.
Inilah alasan mengapa craving manis sering muncul saat tubuh lelah, kurang tidur, atau setelah makan makanan yang nutrisinya tidak seimbang.
Sementara itu, craving asin berkaitan dengan kebutuhan fisiologis. Menurut Keri Gans, natrium berperan penting dalam keseimbangan cairan dan fungsi saraf.
Saat tubuh kehilangan banyak cairan karena berkeringat, dehidrasi ringan, atau kurang asupan mineral, otak dapat memicu keinginan terhadap makanan asin sebagai bentuk kompensasi.
Keinginan minum kopi bukan hanya soal rasa atau kebiasaan nongkrong. Berdasarkan jurnal yang dirangkum oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI), kafein bekerja dengan memblokir reseptor adenosin di otak, yakni zat yang memicu rasa kantuk.
Astrid Nehlig, PhD, peneliti neurosains yang banyak meneliti efek kafein, menjelaskan bahwa efek ini meningkatkan kewaspadaan, fokus, dan mood.
Karena itu, tubuh bisa 'mengingat' kopi sebagai sumber energi cepat dan memicu craving, terutama pada orang yang rutin mengonsumsinya.
Untuk rasa asam, Healthline menyebutkan bahwa craving ini sering berkaitan dengan preferensi sensori dan pengalaman rasa. Makanan asam seperti citrus atau cuka memberi sensasi tajam dan menyegarkan, yang bagi sebagian orang terasa memuaskan.
Meski risetnya belum sebanyak rasa manis atau asin, para ahli sepakat bahwa otak dapat mempelajari rasa asam sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membangkitkan selera.
Sedangkan craving es atau minuman sangat dingin patut diperhatikan jika terjadi terus-menerus.
Jennifer Wider, MD, pakar kesehatan perempuan menjelaskan bahwa dorongan mengunyah es secara kompulsif, atau yang disebut pagophagia, bisa menjadi tanda defisiensi zat besi atau anemia. Jika kebiasaan ini intens dan berulang, evaluasi medis sangat disarankan.
Lalu bagaimana kita sebaiknya meresponi craving ini?
Menurut Cambridge University Hospitals NHS, food craving biasanya muncul sesaat lalu mereda dengan sendirinya. Untuk itu, jika kamu mulai craving sesuatu, coba kenali dulu apakah itu karena tubuh benar-benar lapar atau hanya keinginan sesaat.
Dengan memahami polanya, kita jadi tidak reaktif dan bisa lebih memegang kendali atas pilihan makan.