BPS: Harga BBM Nonsubsidi Naik Picu Inflasi Transportasi 2,29% pada Juni 2026

Last modified: 6 hours ago

Petugas SPBU Pertamina mengisikan BBM Non-subsidi Pertamax Turbo ke sebuah motor Foto: Pertamina

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi telah mendorong inflasi kelompok transportasi menjadi sebesar 2,29 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juni 2026, dengan andil inflasi sebesar 0,28 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan angka tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi sebanyak dua kali sepanjang Juni 2026.

“Yang pertama, pada tanggal 1 Juni dan juga tanggal 10 Juni tahun 2026. Kita tahu bersama pada tanggal 1 Juni tahun 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax Turbo, tapi juga penurunan harga pada Dexlite dan juga Pertamina Dex. Kemudian pada tanggal 10 Juni terjadi kenaikan harga pada Pertamax,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7).

Pada 1 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Harga Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp 20.750 per liter. Selanjutnya, pada 10 Juni 2026, Pertamina kembali menyesuaikan harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik menjadi Rp 17.000 per liter.

“Pada Juni 2026, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,29 persen. Inflasi pada kelompok tersebut yaitu kelompok transportasi ini disumbang oleh kenaikan bensin, tarif angkutan udara dan juga pelumas atau oli mesin,” sebut Ateng.

Kelompok transportasi pada Juni 2026 tidak hanya terdorong oleh kenaikan harga bensin yang memberikan andil inflasi 0,21 persen, tetapi juga oleh tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen serta pelumas/oli mesin sebesar 0,01 persen.

“Inflasi pada komoditi bensin dipicu oleh penyesuaian harga beberapa jenis BBM nonsubsidi seperti yang sudah tadi saya uraikan,” tutur Ateng.

BPS juga telah melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada Juni 2026 menunjukkan inflasi sebesar 0,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara secara tahunan, menunjukkan tingkat inflasi sebesar 3,34 persen.

“Secara tahunan atau year on year terjadi inflasi sebesar 3,34 persen. Secara year to date, terjadi inflasi sebesar 1,79 persen,” kata Ateng dalam kesempatan yang sama.

Ateng mengatakan, penyumbang inflasi bulanan terbesar pada bulan Juni ini berasal dari kelompok transportasi, dengan inflasi 2,29 persen dan andil inflasi 0,28 persen. Kemudian, penyumbang inflasi diikuti tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin yang memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Selain kelompok transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil terhadap inflasi Juni 2026 sebesar 0,06 persen, dengan tingkat inflasi kelompok mencapai 0,20 persen.