Last modified: 3 hours ago
Kita semua pasti tahu peribahasa tua "diam adalah emas." Nasihat ini mengajarkan kita untuk menjaga ucapan agar tidak menimbulkan masalah. Namun belakangan ini, jika kita melihat berbagai kasus korupsi besar yang dibongkar oleh Jampidsus (Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus), makna peribahasa itu terasa bergeser secara kocak sekaligus tragis. Di tangan para koruptor, maknanya berubah total menjadi: diam-diam menyimpan emas.
Korupsi komoditas alam—seperti timah atau emas yang belakangan ini bikin heboh—memang butuh suasana yang sepi. Para pelaku sangat butuh pejabat yang pura-pura tidak tahu, aturan yang sengaja dibuat longgar, dan pengawasan yang mendadak "bisu". Selama semua orang yang terlibat sepakat untuk diam dan tutup mulut, uang haram bisa terus mengalir lancar di bawah meja. Di sinilah "diam" menjadi taktik paling mahal agar aksi mereka tidak tercium publik.
Namun, sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Dalam teori komunikasi, ada istilah yang disebut Teori Grapevine atau gampangnya: teori desas-desus. Teori ini menjelaskan bahwa ketika informasi resmi sengaja ditutupi, maka informasi tidak resmi akan menyebar lewat obrolan warung kopi, bisik-bisik tetangga, hingga selentingan di media sosial. Informasi informal ini biasanya menyebar sangat cepat dan sering kali terbukti benar.
Kasus-kasus besar yang dibongkar Jampidsus pun sebenarnya tidak muncul begitu saja. Jauh sebelum para tersangka memakai rompi tahanan, "desas-desus" di masyarakat sudah bekerja lebih dulu. Mulai dari obrolan para pelaku usaha yang heran dengan kuota tambang yang aneh, hingga kecurigaan netizen yang melihat keluarga pejabat hobi pamer kekayaan (flexing) yang tidak masuk akal. Bisik-bisik inilah yang menjadi alarm awal bagi kita semua bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang disembunyikan.
Di sinilah peran penting Jampidsus. Mereka bertugas menangkap desas-desus yang beredar di masyarakat, lalu menyelidikinya secara hukum agar terbukti secara sah di pengadilan. Ketika Jampidsus mulai menggeledah rumah para tersangka dan menyita tumpukan uang serta aset mewah, di situlah taktik "diam-diam" para koruptor langsung hancur berantakan. Emas yang selama ini mereka simpan rapat-rapat akhirnya terpaksa dipajang di depan kamera sebagai barang bukti.
Kasus-kasus ini memberi kita pelajaran penting. Bagi masyarakat biasa, diam mungkin memang emas untuk menghindari pertengkaran. Namun bagi para perampok uang negara, taktik "diam-diam menyimpan emas" tidak akan bisa bertahan lama. Selentingan masyarakat akan terus mengendus kejanggalan mereka, dan pada akhirnya, ketukan pintu dari penegak hukum akan merusak tidur nyenyak mereka.