Efek Hilirisasi dan Smelter, Ekspor Besi dan Baja RI ke China Melesat

15 Sep

Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Jumat (15/9/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas bahan bakar mineral yang biasanya mendominasi ekspor Indonesia ke China telah digeser komoditas besi dan baja HS 72, terutama dalam 2 tahun terakhir.

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan ekspor non migas ke China senilai USD 5,38 miliar dengan pangsa 25,99 persen terhadap total ekspor, utamanya didorong oleh komoditas besi dan baja dan bahan bakar mineral.

“Hal ini tentunya seiring dengan kebijakan hilirisasi dan pembangunan smelter pengolahan bijih nikel sejak tahun 2022 hingga Agustus 2023 ini, komoditas nikel dan barangnya. Kelompok (itu) masuk dalam lima besar komoditas yang diekspor ke Tiongkok,” kata Amalia di Kantor Pusat BPS, Jumat (15/9).

Pada saat bersamaan, ekspor komoditas bijih logam, terak dan abu ke China menurun bahkan tidak masuk dalam lima besar ekspor terbesar ke negara tersebut. Untuk komoditas besi dan baja, negara tujuan utama ekspor dari Indonesia adalah China, Taiwan, India, dan Vietnam.

Per Agustus 2022, pangsa ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar 23,44 persen dari total ekspor nonmigas. Dan di Agustus 2023, pangsa pasar ekspor ke China naik menjadi 25,99 persen.

“Nilai ekspor Indonesia ke China mencapai USD 5,55 miliar. Migasnya USD 170,3 juta, non migas USD 5,38 miliar,” tuturnya.

Sedangkan nilai impor Indonesia dari China pada Agustus 2023 senilai USD 5,25 miliar, terdiri dari impor migas USD 60 juta dan nonmigas USD 5,19 miliar.

Komoditas utama impor dari China adalah mesin, perlengkapan elektrik dan bagiannya, disusul oleh mesin peralatan mekanik dan bagiannya, dan besi baja.


Comments