Ekonom Proyeksi Penerimaan Pajak untuk Juni 2024 Bakal Anjlok Lagi

20 days ago

Ilustrasi membayar pajak. Foto: Shutter Stock

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi penerimaan pajak pada Januari hingga Mei 2024 mencapai Rp 760,4 triliun atau turun 8,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 830,5 triliun.

Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar mengatakan, alasan utama penerimaan pajak terkontraksi adalah adanya peningkatan restitusi imbas merosotnya harga komoditas 2022 ke 2023.

Menurut Fajry, penerimaan pajak Mei 2024 sudah menunjukkan perbaikan namun memang masih terkontraksi. Ia memproyeksi penerimaan pajak Juni 2024 masih terkontraksi.

“Bulan lalu penerimaan pajak kita terkontraksi -9,3 persen sedangkan mei kali ini -8,4 persen. Saya yakin sampai bulan Desember akan terus membaik namun bertahap. Artinya, bulan depan kemungkinan masih negatif namun membaik,” kata Fajry kepada kumparan, Rabu (3/7).

Fajry mengatakan, turunnya realisasi penerimaan pajak tentu akan berdampak pada APBN. Mengingat defisit anggaran APBN 2024 dipatok 3 persen.

Dia melanjutkan, penerimaan perlu diikuti dengan penurunan belanja negara agar defisit tetap terjaga. Fajry menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran akan melakukan APBN Perubahan alias revisi anggaran.

“Kemungkinan, pada pemerintahan baru akan melakukan APBN-P (revisi APBN). Dan selama defisit APBN terjaga, menurut saya, dampak negatifnya ke makroekonomi akan minimum,” ungkapnya.

View post on Instagram
 

Adapun, kontraksi terbesar dalam penerimaan pajak adalah PPh migas sebesar 20,64 persen menjadi Rp 29,31 triliun atau 38,38 persen dari target.

Kemudian, PPh nonmigas melambat 5,41 persen menjadi Rp 443,72 triliun atau 41,73 persen dari target, disusul oleh PBB dan pajak lainnya anjlok 15,03 persen sebesar Rp 5 triliun. Sementara PPN dan PPnBM menguat 5,72 persen menjadi Rp 282,34 triliun atau 3,48 persen dari target.

Di sisi lain, PPN dan PPnBM tercatat sebesar Rp 282,34 triliun. Angka mengalami kenaikan 5,7 persen akibat kenaikan ekonomi.


Comments