Last modified: 3 hours ago
Keterlibatan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam polemik jadwal pertandingan Piala Dunia 2026 antara Meksiko melawan Inggris memicu kontroversi. Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, menilai campur tangan Steimer lebih serius dari intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kasus kartu merah penyerang AS, Folarin Balogun.
Pernyataan itu disampaikan Giuliani saat diwawancarai Times Radio. Menurutnya, dukungan Starmer terhadap upaya Federasi Sepak Bola Inggris (FA) untuk mempertahankan jadwal pertandingan memiliki dampak yang lebih besar karena berkaitan dengan keputusan penyelenggaraan turnamen.
Sebelumnya, FIFA sempat mempertimbangkan memajukan waktu kick-off laga babak 16 besar antara Inggris dan Meksiko di Mexico City dari pukul 18.00 menjadi 12.00 waktu setempat. Perubahan itu dinilai akan mengurangi waktu persiapan skuad Inggris untuk menghadapi pertandingan di kota yang berada di dataran tinggi.
Di sisi lain, alasan pembahasan perubahan jadwal tersebut dikaitkan dengan faktor keamanan. Setelah pertandingan babak 32 besar Meksiko melawan Ekuador yang berakhir larut malam, dilaporkan tiga warga Meksiko meninggal dunia di tengah padatnya kerumunan suporter yang memadati pusat kota.
Menurut Giuliani, isu keselamatan publik jauh lebih penting dibandingkan persoalan keputusan wasit di lapangan.
"Saya melihat keterlibatan Starmer sebagai situasi yang jauh lebih serius. Diskusi mengenai perubahan jadwal muncul karena alasan keselamatan jiwa, bukan soal permainan di lapangan," kata Giuliani.
Juru bicara resmi Perdana Menteri Inggris menegaskan bahwa Keir Starmer hanya mendukung penyampaian keberatan dari FA terkait dampak praktis perubahan jadwal terhadap persiapan tim nasional Inggris. Menurut pemerintah Inggris, keputusan mengenai waktu pertandingan sepenuhnya berada di tangan FIFA.
Komentar Giuliani muncul setelah Presiden Donald Trump dikabarkan menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta peninjauan terhadap kartu merah yang diterima penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Tak lama setelah itu, Komite Disiplin FIFA memutuskan menangguhkan sanksi Balogun sehingga pemain tersebut dapat kembali tampil.
Kasus tersebut memicu kritik terhadap FIFA karena dianggap membuka ruang bagi campur tangan politik. Menanggapi tudingan tersebut, Gianni Infantino menegaskan bahwa seluruh komite FIFA bekerja secara independen dalam mengambil keputusan disipliner.