Mengulik Lasem: Daerah Akulturasi Budaya Tiongkok di Indonesia

Last modified: 9 hours ago

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang - https://dinbudpar.rembangkab.go.id/kecamatan-lasem/

Terletak di pesisir utara provinsi Jawa Tengah, terdapat sebuah kota kecil yang menyimpan berbagai kisah yang besar. Di balik jalanannya yang tenang dan penuh dengan sederet bangunan tua, kota ini menyimpan kisah panjang yang membentang sejak lebih dari seribu tahun yang lalu.

Kota ini pernah menjadi jalur perdagangan internasional, pusat industri perkapalan, hingga pertemuan dan perpaduan berbagai budaya.Kota yang dimaksud ialah Lasem, kota yang menyimpan sejuta sejarah dan memiliki akulturasi budaya yang besar—hingga membuatnya mendapatkan julukan “Kota Tiongkok Kecil”.

Sejarah Pembentuk Kota Lasem

Perjalanan Kota Lasem hingga berkembang sebagai kawasan maritim telah berlangsung selama berabad-abad yang lalu, bahkan sejak zaman prasejarah sebelum Masehi. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat situs-situs dari ribuan tahun yang lalu di Plawangan, Leran, Binangun, dan Terja. Para peneliti telah memperkirakan bahwa suku Austronesia merupakan bangsa pertama yang mendiami wilayah Lasem.

Tak hanya sampai di situ, temuan Perahu Kuno Punjulharjo juga menunjukkan bahwa tradisi pelayaran di kawasan Lasem telah berkembang setidaknya sejak abad ke-7 Masehi. Hal inilah yang kemudian menjadikan Lasem sebagai salah satu kawasan penting dalam jaringan perdagangan Nusantara yang kerap disinggahi oleh para pedagang dari manca negara.

Kemudian, memasuki era Kerajaan Majapahit, peran dari wilayah Kota Lasem semakin menguat sebagai pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Berdasarkan catatan sejarah, Lasem juga diasumsikan merupakan sebuah kerajaan yang berada di bawah naungan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang turut menyorotinya sebagai sebuah kawasan yang subur.

Aktivitas perdagangan pun terus berlangsung pada masa Demak, Mataram Islam, hingga kolonial yang menghasilkan kedatangan pedagang dari berbagai negara, seperti Tiongkok, Champa, Bugis, dan wilayah lainnya. Alhasil, Kota Lasem menjadi tempat persinggahan bagi para pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Tiongkok yang kemudian membentuk komunitas Tionghoa selama berabad-abad di Lasem.

Wujud Nyata Akulturasi

Sumber: Pemerintah Kabupaten Rembang - https://rembangkab.go.id/berita/pemkab-rembang-siap-tindaklanjuti-dukungan-wamen-kebudayaan-untuk-kelenteng-cu-an-kiong/

Jejak akulturasi tersebut hingga kini masih dapat dirasakan melalui berbagai sudut di Kota Lasem—terkhususnya unsur peninggalan bersejarah kebudayaan Tiongkok. Salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi bukti dari adanya akulturasi budaya adalah tiga kelenteng berusia ratusan tahun yang tersebar di wilayah Kota Lasem. Kelenteng-kelenteng tersebut di antaranya adalah: Kelenteng Cu An Kiong, Kelenteng Poo An Bio, dan Kelenteng Gie Yong Bio.

Kelenteng Cu An Kiong—atau yang kerap disebut dengan Kelenteng Mak Co—merupakan kelenteng tertua di Kota Lasem yang terletak di Desa Soditan. Diasumsikan berdiri pada abad ke-15, Kelenteng Cu An Kiong memiliki dewa utama yang dipuja, yakni Dewi Ma Zu atau yang biasa disebut Mak Co—yang merupakan figur Dewi Laut bagi kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Selain Cu An Kiong, kelenteng lain yang dapat dikunjungi adalah Kelenteng Poo An Bio—yang merupakan kelenteng tertua kedua di Lasem. Terletak di Desa Karangturi, kelenteng ini didirikan pada tahun 1700-an dan memuja Dewa Guang Ze Zun Wang (Kong Tik Cun Ong). Dewa yang dipuja kelenteng ini merupakan dewa pelindung bagi perantau.

Terakhir, adalah Kelenteng Gie Yong Bio—kelenteng bersejarah yang berlokasi di Desa Babagan, Kota Lasem. Nama kelenteng ini sendiri dapat diartikan sebagai “Kakek yang Gagah”, di mana kelenteng ini didirikan untuk mengenang kegagahan dan jasa Raden Panji Margono yang dengan berani melawan penjajah bersama penduduk asli dan masyarakat Tionghoa.

Tak jauh dari ketiga situs tersebut, berdiri pula Masjid Jami" yang merupakan wujud nyata dari akulturasi budaya Tiongkok dan Islam di Kota Lasem. Bangunan arsitektur dari masjid ini dipengaruhi oleh dua kebudayaan, yakni budaya Jawa dan budaya Tiongkok.

Pengaruh budaya Jawa dapat terlihat pada atap tumpang masjid ini yang merupakan ciri khas masjid kuno Jawa, disertai dengan elemen kayu yang mendominasi bangunan ini. Elemen budaya Tiongkok juga dapat melalui beberapa ornamen-ornamen yang ada di dalam bangunan masjid. Perpaduan ini mencerminkan kehidupan bermasyarakat yang saling berdampingan antar dua komunitas.

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang - https://dinbudpar.rembangkab.go.id/kecamatan-lasem/

Selain bangunan, harmoni budaya juga tercermin melalui Batik Lasem—salah satu warisan budaya yang menjadi identitas Kota Lasem hingga saat ini. Batik Lasem berkembang sejak kedatangan pelayar dan saudagar dari Tiongkok, yang kemudian menjadi perpaduan antara budaya Jawa dan Tiongkok. Para imigran Tionghoa pada akhirnya turut mewariskan keterampilan dalam membatik kepada masyarakat setempat hingga melahirkan identitas Batik Lasem yang khas.

Ragam motif Batik Lasem menunjukkan adanya akulturasi nyata. Motif burung hong, naga, dan juga bambu pada batik merepresentasikan adanya pengaruh budaya Tiongkok. Sementara sejarah dan kehidupan masyarakat asli Lasem tercermin melalui motif latohan dan watu pecah (kricak) yang menjadi pengingat akan masa pembangunan Jalan Raya Pos di era Daendels.

Toleransi dan Interaksi Sosial Masyarakat

Keharmonisan ragam budaya di Lasem tak hanya tercerminkan melalui bangunan maupun peninggalan bersejarah, namun juga hidup dalam keseharian masyarakatnya. Selama berabad-abad, masyarakat Jawa, Tionghoa, Arab, dan berbagai kelompok lainnya telah membangun hubungan bermasyarakat yang erat melalui kehidupan bertetangga, aktivitas ekonomi, hingga tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Perbedaan latar belakang etnis maupun agama tidak menjadi suatu penghalang dalam berinteraksi, yang justru menjadi bagian dari identitas sosial yang mengakar di Lasem.

Harmoni ini tercermin melalui kehidupan sehari-hari masyarakat Lasem, di mana warga saling menghadiri dan membantu perayaan budaya maupun agama tanpa memandang adanya perbedaan. Nilai toleransi di Lasem tumbuh secara alami melalui kedekatan antarmasyarakat yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad, sehingga keragaman ini menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Inilah yang menjadikan Lasem lebih dari sekadar destinasi wisata sejarah. Lasem menyajikan jejak akulturasi melalui bangunan, karya, dan peninggalan bersejarah yang turut menghadirkan potret kehidupan masyarakat yang merawat nilai toleransi hingga kini.

Sumber:

Agni Malagina. (2018, December 7). Klenteng Cu An Kiong Lasem. Kesengsem Lasem. https://kesengsemlasem.com/klenteng-cu-an-kiong-lasem

Alifatur Rizqi Nur Awwaliyah, & Yusuf Falaq. (2023). Educational Benefits of Cu An Kiong Lasem Temple in Social Science Learning. Jurnal Pendidikan IPS, 13(2), 200–205. https://doi.org/10.37630/jpi.v13i2.1217

Ardiansyah, R. (2017, February 18). 3 Kelenteng di Lasem – Idsejarah. Idsejarah.Net. https://idsejarah.net/2017/02/3-kelenteng-di-lase.html

Batik Lasem Akulturasi Budaya Jawa dan Tiongkok. (2014, October 2). Pemerintah Kabupaten Rembang. https://rembangkab.go.id/uncategorized/batik-lasem-akulturasi-budaya-jawa-dan-tiongkok/

Farid Akbar, M. (2026, May 20). Masjid Jami Lasem: Simbol Akulturasi Budaya di Jawa. Narapusaka.Id - Temukan Indonesia Yang Tak Pernah Padam. https://narapusaka.id/masjid-jami-lasem/

MURTI LASEM, T. T. (2026). SEJARAH KENTENG POO AN BIO LASEM. Blogspot.Com. https://titdtrimurtilasem.blogspot.com/2011/07/sejarah-kenteng-poo-bio-lasem.html

Noerwidi, S. (2017). GLOBALISASI, PELAYARAN-PERDAGANGAN DAN DIVERSITAS POPULASI: STUDI SISA MANUSIA SITUS LERAN, REMBANG, JAWA TENGAH. Berkala Arkeologi, 37(2), 103–124. https://doi.org/10.30883/jba.v37i2.175

Nurhadi Sucahyo. (2018, January 25). Belajar Toleransi dari Lasem dan Kudus. VOA Indonesia; VOA Indonesia | Berita AS, Dunia, Indonesia, Diaspora Indonesia di AS. https://www.voaindonesia.com/a/belajar-toleransi-dari-lasem-dan-kudus-/4224812.html

Riyanto, S., Mochtar, A. S., Alifah, A., Taniardi, P. N., & Priswanto, H. (2020). Lasem dalam Rona Sejarah Nusantara. Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sri Lestari. (2015, February 19). Toleransi antar etnis di “Kota Cina Kecil” Lasem. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150219_lasem_toleransi

Tunjung, A. (2018, July 14). Klenteng Poo An Bio. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. https://budaya-indonesia.org/Klenteng-Poo-An-Bio