Menguliti Misogini Tersembunyi Dalam Karakter 'Bear' di Film Obssesion (2026)

Last modified: 3 hours ago

Poster film Obsession. Foto: IMDb

Histeria film horror hollywood kembali mengguncang khalayak ramai di pertengahan tahun 2026 ini. Berawal dari kesuksesan film indie viralnya Milk & Serial pada tahun 2024, Barker kini melangkah ke panggung Hollywood bersama Focus Features lewat Obsession, sebuah sajian horor psikologis yang segar sekaligus mencekam.

Namun siapa sangka, di dalam kemasan horror tersebut ada hal menarik yang bisa dikuliti lebih dalam yaitu bagaimana film ini menyoroti sisi gelap berlapis. Tidak hanya sekadar film horror, kisah ini diawali ketidakadilan perempuan dalam menerima ruang aman dan gelapnya misogini bagi kaum wanita.

Ini bermula ketika karakter 'Bear' yang diperankan oleh Michael Johnston muncul di cerita. Sebagai tokoh utama ia patut diidamkan para kaum hawa mengingat label 'nice guy' melekat dalam pembawaannya namun sebenarnya menyimpan dendam patriarki yang mendalam karena cintanya tidak berbalas.

Inde Navarrette. Foto: GARETH CATTERMOLE/Getty Images via AFP

Sebagai seorang pria Bear mengalami fragile masculinity, ia takut mengungkapkan perasaannya kepada sang teman. Ego nya pun menjadi tidak terpenuhi sehingga membuatnya hilang kendali. Ia menyeret Inde Navarrette sebagai Nikki dalam obsesi yang merusak bermodal 'One Wish Willow' untuk membuat Nikki mencintainya lebih dari siapa pun.

Namun, bukannya mendapatkan cinta yang tulus, keinginan egois tersebut justru mengubah Nikki menjadi sosok yang terdistorsi dan terobsesi secara mengerikan kepadanya.

Keputusan Bear ini tidak hanya merenggut otonomi diri Nikki, tetapi juga menyeret hubungan mereka dan teman-teman di sekitar mereka ke dalam bencana psikologis yang mematikan.

Salah satu adegan krusial terlihat ketika Bear mematahkan One Wish Willow, padahal Nikki sebelumnya sudah membuka ruang untuk berkomunikasi secara jujur.

Ketegangan semakin tidak terkendali saat obsesi Nikki kian memuncak, hingga Bear berusaha menghubungi layanan bantuan meski akhirnya gagal.

Alih-alih mencari solusi, ego Bear justru makin mendominasi. Ketika kesadaran Nikki yang terperangkap menjerit memohon pembebasan di latar belakang, Bear dengan egonya yang terluka justru membela diri,

'Apa salahnya sih cuma ingin bersamaku?!'. Ini menandakan bahwa manipulasi kontrol pada tubuh perempuan kerap dibungkus dengan kata 'sayang'.

Film ini tidak hanya mengajak kita pada adegan gaib yang mencekam tetapi juga memaknai kehidupan sosial dan dampak dari egoisme dan entitlement pria dalam sebuah hubungan.

Lewat nasib tragis Nikki dan kepalsuan topeng 'pria baik' milik Bear, film ini memberikan refleksi dan peringatan keras bahwa batasan, kendali, dan konsen merupakan hak utama dalam diri perempuan.