Mungkinkah Hubungan Rumah Tangga yang Pernah Terjadi KDRT Bisa Diperbaiki?

8 days ago

Ilustrasi KDRT. Foto: sdecoret/Shutterstock

Siapa saja dapat berpotensi menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan ini dapat terjadi di antara hubungan suami istri, orang tua ke anak maupun ke sesama saudara. Pertanyaannya, apakah perilaku pelaku KDRT dapat disembuhkan?

Psikolog klinis dewasa dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, mengatakan secara umum KDRT bisa saja disembuhkan, terutama apabila kekerasan yang terjadi bukan karena isu kepribadian atau karakter pelaku.

Dua Jenis KDRT dalam Rumah Tangga

Setidaknya ada dua jenis kekerasan yang bisa terjadi. Pertama, kekerasan insidental yang tidak disadari. Biasanya hal ini terjadi karena argumen yang meningkat dan pelaku secara spontan snap out atau kalap dari kekerasan tersebut. Bila yang terjadi seperti ini, maka langkah recovery lebih mungkin untuk dilakukan.

Kedua adalah kekerasan karena kebiasaan. Ada pelajaran dari lingkungan yang menumbuhkan nilai atau keyakinan bahwa kekerasan adalah cara yang normal untuk menyelesaikan masalah.

Ilustrasi KDRT. Foto: charnsitr/Shutterstock

Kemudian ada pula peran karakter. Seperti: pasangan yang pemarah, pencemburu, curiga, drastic mood swings atau perubahan emosi secara drastis dan self control atau kemampuan pengendalian diri yang buruk.

“Bila yang terjadi adalah yang kedua, maka untuk menyembuhkannya menjadi lebih sulit bila tidak ada kesadaran/keinginan dari pelaku,” kata Nadya kepada kumparanMOM.

Nadya mengatakan,hubungan rumah tangga cenderung lebih mudah diperbaiki apabila kekerasan yang terjadi adalah insidental. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki hubungan akibat KDRT kategori ini, yakni:

Langkah-langkah untuk Memperbaiki Hubungan Akibat KDRT

1. Pastikan ada kesepakatan bersama untuk mau memperbaiki. Bukan karena paksaan salah satu pihak atau tuntutan dari pihak luar.

Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

2. Belajar tentang strategi conflict resolution agar pasangan bisa terhindar dari heated argument.

3. Belajar strategi kelola emosi. Pada kedua belah pihak, tapi terutama pada pelaku untuk bisa mengarahkan ekspresi emosi negatifnya pada output yang sesuai.

4. Tanamkan dalam diri bahwa kekerasan adalah nilai yang tidak ingin diadopsi oleh keluarga kalian, sehingga secara sadar melakukan langkah-langkah regulasi diri yang lebih efektif.

Moms, kendati demikian, korban dapat keluar dari hubungan bermasalah ini apabila pelaku tidak merasa ada yang salah pada dirinya, sehingga tidak melakukan usaha perbaikan diri.


Comments