Last modified: 2 hours ago
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan pemerintah menyusun regulasi tingkat nasional yang melarang perdagangan daging anjing dan kucing untuk konsumsi.
Menurut dia, kebijakan itu menjadi salah satu langkah konkret untuk menekan penyebaran rabies di Indonesia. Charles menyoroti masih tingginya angka kematian akibat rabies di Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain.
“Kalau kita perhatikan, saya kan cukup sering ya, kalau ada anjing lewat, kucing lewat, kita ajak main gitu ya. Kita perhatikan memang di telinganya dikasih tag, Pak. Sehingga baik penduduk Kota Istanbul maupun wisatawan nggak khawatir ketika misalnya ada yang dicakar kucing, digigit anjing, ya. Nah, ini penting, Pak,” kata Charles saat rapat dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).
Charles mencontohkan Kota Istanbul di Turki yang dinilainya berhasil melakukan pengelolaan hewan jalanan. Ia mengatakan kasus rabies di negara tersebut relatif rendah.
“Menurut saya bukan tidak mungkin kita mengurangi atau menghilangkan kasus rabies di Indonesia. Kita lihat datanya, saya tadi sempat cari-cari data di Turki kasus rabies berapa? Banyak sih setahun. Tidak lebih dari dua, maksimal, antara satu sampai dua,” ujarnya.
Ia kemudian membandingkan dengan kondisi di Indonesia. Menurut Charles, jumlah korban meninggal akibat rabies masih cukup tinggi.
“Sedangkan di Indonesia, angka yang meninggal dunia akibat rabies masih terdapat lebih dari 122 di tahun 2024. Angka 2025 saya belum dapat, tetapi ya kurang lebih di atas 100 kemungkinan,” kata Charles.
“Nah, sebetulnya pengendalian ini bisa dilakukan, asal pemerintah antar instansi ini bisa saling bekerja sama,” lanjut dia.
Ia juga menyinggung konsep yang menghubungkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan.
“Memang bukan sepenuhnya tugas dari Kementerian Kesehatan, tapi kan tadi bapak sudah sebutkan konsep One Health. One Health, bahkan sekarang bukan hanya One Health, One Health One Welfare. Jadi kesehatan dan kesejahteraan hewan termasuk lingkungan hidup saling berkaitan. Ketika hewan itu sehat, lingkungan bisa dijaga dengan baik, maka kesehatan manusia lebih bisa dipastikan gitu,” jelasnya.
“Saya berharap Pak Menteri ajak komunikasi Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, agar lebih banyak lagi daerah yang bisa meniru kota Istanbul di Turki, khususnya di Bali, Pak,” katanya.
Charles mengaku prihatin karena Bali memiliki ras anjing lokal yang telah mendapat pengakuan internasional, namun pergerakannya masih terbatas akibat status wilayah yang belum bebas rabies.
“Saya agak sedih ya, karena gini Bali ini memiliki satu jenis ras anjing yang bernama anjing Kintamani Bali yang sudah diakui oleh Federasi Kinologi Dunia. Satu-satunya ras anjing dari Indonesia diakui di dunia internasional,” ujar Charles.
“Tetapi karena Bali ini masih masuk wilayah yang tidak bebas rabies sehingga pergerakan hewan, baik itu anjing, kucing ya, dan hewan-hewan lain yang dianggap bisa menularkan rabies itu tidak bebas keluar-masuk Bali. Sehingga ya agak sulit kita mau melestarikan bahkan mempromosikan ras anjing yang memang asli dari Indonesia dan sudah diakui oleh dunia ini gitu,” lanjutnya.
Charles juga mengusulkan pemerintah mempertimbangkan penerapan larangan perdagangan daging anjing dan kucing secara nasional. Ia menilai konsumsi kedua hewan tersebut berpotensi menjadi jalur penyebaran rabies.
“Jadi Pak Menkes itu tadi ya, kita buatlah Indonesia bebas rabies dan saya yakin itu sangat bisa. Dan salah satunya menurut saya adalah membuat juga regulasi di tingkat nasional terkait dengan larangan terkait perdagangan daging anjing dan kucing, Pak. Karena mengkonsumsi anjing dan kucing itu ternyata bisa menyebarkan rabies,” kata Charles.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah lebih dulu menerbitkan aturan yang melarang perdagangan daging anjing dan kucing untuk konsumsi.
“Dan di Jakarta, di DKI Jakarta, Provinsi DKI Jakarta sudah sudah menjadi provinsi pertama di bulan November yang lalu yang mengeluarkan Pergub larangan perdagangan daging anjing dan kucing untuk konsumsi. Jadi saya rasa ini bisa dibahas atau dipikirkan untuk dilakukan secara nasional ya pak,” tutupnya.