Last modified: 3 hours ago
Indonesia membutuhkan investasi mencapai Rp 8.705 triliun pada 2027. Namun, kapasitas APBN hanya mampu membiayai sekitar Rp 459 triliun, sehingga sebagian besar kebutuhan investasi harus dipenuhi dari pembiayaan swasta.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan, selain APBN, BUMN termasuk Danantara diperkirakan berkontribusi sekitar Rp 330 triliun. Sementara itu, sekitar Rp 7.973 triliun atau 91 persen dari kebutuhan investasi harus berasal dari sumber pembiayaan swasta.
"APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp 459 triliun. Sebagian lagi oleh BUMN termasuk danantara sebesar Rp 330 triliun. Sisanya sebagian besar harus berasal dari sumber pembiayaan swasta," kata Juda saat acara Peluncuran ETF Emas sekaligus HUT Pasar Modal Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8).
Menurut Juda, pasar modal memiliki peran penting untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat.
"Ia (pasar modal) adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan,” jelas Juda.
Juda meminta pasar modal RI mesti diperkuat agar mampu menjalankan perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Pasar modal hadir sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional. Nah oleh sebab itu kami, kita harus mewujudkan pasar modal Indonesia yang dalam, yang liquid, dan juga tentu saja yang trustable dan credible,” tutur Juda.