14 days ago
Banyak orang merasa heran ketika membuka tagihan listrik bulanan. Aktivitas harian terasa sama, tidak ada perubahan besar dalam rutinitas, tetapi angka di lembar tagihan justru terus merangkak naik. Dengan bantuan teknologi smart building dan pemantauan energi seperti yang dikembangkan oleh Ferbos, penyebab pemborosan listrik bisa diidentifikasi sejak awal, bukan sekadar ditebak dari total pemakaian bulanan.
Di titik inilah banyak konsumen mulai menebak-nebak. Apakah karena tarif naik? Apakah karena cuaca lebih panas? Atau ada perangkat yang bermasalah? Tanpa informasi yang lebih detail, sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik kenaikan biaya listrik tersebut.
Padahal, persoalannya sering kali bukan hanya soal berapa banyak listrik yang dipakai, melainkan seberapa sedikit kita tahu tentang cara listrik itu digunakan.
Memang benar, penyesuaian tarif dan harga energi bisa memengaruhi besarnya tagihan. Namun, dalam banyak kasus, kenaikan biaya justru datang dari perubahan kecil yang terjadi perlahan dan nyaris tidak terasa.
Beberapa penyebab yang sering luput disadari antara lain:
Semua ini berjalan diam-diam. Tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada indikator yang mudah dibaca, sampai akhirnya dampaknya terasa di akhir bulan.
Gaya hidup modern sangat bergantung pada listrik. Banyak perangkat bekerja otomatis, tersambung sepanjang waktu, dan jarang benar-benar dimatikan. Dari router internet, televisi, hingga pengisi daya, semuanya tetap mengonsumsi energi meski tidak sedang digunakan secara aktif.
Masalahnya, tanpa data yang rinci, kita tidak bisa membedakan mana konsumsi yang memang dibutuhkan dan mana yang sebenarnya bisa dihemat. Semua tercampur dalam satu angka besar di meteran.
Meteran listrik konvensional hanya mencatat total pemakaian. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang sebenarnya paling penting bagi konsumen, seperti:
Akibatnya, upaya penghematan sering kali dilakukan secara umum dan acak. Lampu dimatikan lebih sering, misalnya, padahal bisa jadi penyumbang terbesar justru datang dari pendingin ruangan atau peralatan lain yang jarang diperhatikan.
Di sinilah muncul celah besar antara konsumsi energi dan pemahaman kita tentang konsumsi itu sendiri.
Salah satu sumber pemborosan yang sering tidak disadari adalah perangkat yang selalu menyala. Router, televisi dalam mode standby, dispenser, hingga berbagai perangkat pintar tetap menarik daya sepanjang hari.
Selain itu, sistem pendingin dan pemanas juga menjadi faktor besar. Penggunaan AC di malam hari dengan suhu terlalu rendah, ruangan yang kurang terisolasi, atau mesin yang sudah tidak efisien bisa membuat konsumsi melonjak tanpa terasa.
Belum lagi perangkat lama seperti kulkas atau mesin air yang performanya menurun, tapi tetap bekerja keras dan menyedot lebih banyak listrik dibandingkan model yang lebih baru dan hemat energi.
Banyak orang mengira efisiensi energi berarti harus mengorbankan kenyamanan: ruangan lebih panas, aktivitas dibatasi, atau perangkat jarang digunakan. Padahal, konsep efisiensi justru berfokus pada penggunaan yang lebih cerdas, bukan sekadar pengurangan.
Efisiensi berarti tahu di mana energi paling banyak dipakai, kapan lonjakan konsumsi terjadi, dan mengapa pemakaian bisa berubah. Tanpa informasi ini, penghematan hanya mengandalkan perkiraan.
Kesadaran menjadi langkah pertama. Saat orang memahami pola konsumsi mereka, keputusan yang diambil pun menjadi lebih tepat sasaran, bukan sekadar mencoba-coba.
Di sinilah peran pemantauan energi berbasis teknologi mulai terasa. Sistem pemantauan pintar mampu menunjukkan data konsumsi secara lebih rinci, baik per jam, per sirkuit, hingga pola penggunaan dalam jangka waktu tertentu.
Beberapa penyedia teknologi di Indonesia juga mulai mengembangkan solusi pemantauan energi yang terintegrasi dengan sistem manajemen gedung. Salah satunya adalah Ferbos, perusahaan teknologi yang fokus pada pengembangan sistem smart building dan pemantauan energi berbasis data.
Melalui dashboard digital, pengelola gedung maupun penghuni bisa melihat pola konsumsi listrik secara lebih transparan, sehingga sumber pemborosan dapat diidentifikasi lebih cepat dan akurat.
Pendekatan berbasis data ini membuat upaya efisiensi tidak lagi bergantung pada asumsi, tetapi pada informasi yang bisa langsung ditindaklanjuti.
Seiring berkembangnya teknologi, pemantauan energi kini tidak lagi berdiri sendiri. Konsep Smart Building as a Service (SBaaS) mulai diperkenalkan sebagai pendekatan pengelolaan gedung yang menggabungkan sensor, sistem pemantauan, dan analisis data dalam satu layanan terpadu.
Melalui pendekatan ini, pengelola gedung tidak hanya bisa melihat konsumsi listrik, tetapi juga memantau kinerja sistem pendingin, kualitas udara, hingga tingkat okupansi ruangan. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengoptimalkan operasional gedung secara berkelanjutan, tanpa harus melakukan investasi besar di awal.
Beberapa penyedia teknologi, mulai mengembangkan model layanan ini untuk membantu gedung perkantoran dan fasilitas komersial meningkatkan efisiensi energi sekaligus kenyamanan pengguna, dengan pendekatan berbasis data dan pemantauan real-time.
Dengan model layanan seperti ini, transformasi menuju gedung yang lebih efisien tidak lagi menjadi proyek besar yang kompleks, tetapi bisa dilakukan secara bertahap dan terukur.
Ada kasus di sebuah apartemen di mana penghuni merasa kebiasaan mereka tidak berubah, tapi tagihan terus meningkat. Dugaan awal jatuh pada penggunaan lampu dan perangkat kecil lainnya.
Namun setelah dilakukan pemantauan, terlihat bahwa kulkas lama yang sudah tidak efisien dan penggunaan AC yang lebih lama di malam hari menjadi penyumbang terbesar. Setelah suhu AC disesuaikan dan perangkat lama diganti, konsumsi listrik mulai turun tanpa harus mengubah banyak kebiasaan harian.
Masalahnya bukan pada aktivitas, melainkan pada bagian yang selama ini tidak terlihat.
Untuk mulai mengendalikan tagihan listrik, beberapa langkah berikut bisa menjadi titik awal:
Langkah-langkah ini akan jauh lebih efektif jika didukung oleh data, bukan sekadar asumsi.